Keraguan Mematahkan Semangatku


Hari ini kami mengadakan kegiatan pengibaran bendera merah putih dalam rangka peringatan Hut RI yang ke-75. Disepakati acara berlangsung di salah satu villa. Jadwal berkumpul pukul 06.30, tapi  lagi-lagi hal yang sama terjadi sudah pukul 7.20 masih saja belum jalan.

Sambil menunggu tidak terasa sudah 45 menit waktu berlalu, daripada  bengong  saya kepikiran untuk manulis. Meilihat panitia mahasiswa wira-wiri mengatur persiapan, seketika saya teringat kenangan sewaktu kuliah dulu.

Ikut bergabung di organisasi dan melaksanakan berbagai macam acara, salah satu kegiatan yang memiliki pengalaman menarik adalah pelatihan Microsoft Office untuk masyarakat sekitar  kost tempat tinggal saya.

Dengan swadaya setiap pelatihan komputer saya dan rekan-rekan mahasiswa  membawa komputer sendiri  ke masjid. Tahun  2005 masih menggunakan personal computer terpisah antara monitor, keyboard mouse dan UPS.

Ada  5 komputer yang bisa digunakan pada saat pelatihan.  Pelatihan  dilaksanakan dua kali dalam seminggu. Pendaftaranpun dibuka tak disangka minat masyarakat sekitar masjid cukup luar biasa. Ada sekitar 15 orang yang mendaftar. Sehingga kami mengadakan pelatihan 3 sesi dalam sekali pertemuan.

Diantara peserta yang mendaftar ada yang menarik perhatian saya. Panggil saja mbak Bintang. Seorang ibu muda memiliki 2 orang anak putra dan putri yang berkisaran umur 5 dan 3 tahun.

Sore itu ia datang mendaftar.
"Mbak saya mau mendaftar pelatihan komputer."
"Ya, silahkan Mbak” sahutku
Ia mengisi blanko pendaftaran yang aku sodorkan ke padanya.
“Pelatihannya mulai minggu depan ya, Mbak.” 
“Oh, inggih”

Itulah obrolan pertamaku dengannya, sebelumnya kami hanya sekedar bertegur sapa say hallo karena sering bertemu di jalan depan rumahnya  setiap aku hendak ke masjid.

Saya sering mendengar desas-desus tentangnya, masyarakat banyak yang mengatakan bahwasanya mbak Bintang memiliki goncangan jiwa. Sering aku diingatkan oleh teman-teman atau warga sekitar agar berhati-hati dengannya.

 “Permisi Bu, Ibu di mobil cuma bertiga ya?” salah satu panitia menghampiriku, seketika aku menghentikan tulisanku.
“Iya”
“Bu, nanti ada yang numpang di mobil ibu ya 5 orang.”
“Oh iya bisa.”

Semua bergerak menuju ke kendaraan untuk berangkat ke lokasi acara. Aku pun menghentikan tulisanku. Acara peringatan HUT RI ini diadakan oleh salah satu organisai yang cukup besar di Indonesia yang telah tersebar hampir di seluruh nusantara. 

Di Kabupaten ini organisasi ini telah memiliki sekolah TK, SD, organisasi pemuda, badan amil zakat serta panti asuhan. Acara ini dihadiri oleh semua pengurus, guru serta anak-anak panti yang berkisar 100 orang.

Walaupun ada sedikit keraguan ketika ingin melaksanakan kegiatan di masa pandemi, semua panitia memastikan semua kegiatan mengikuti anjuran protocol Covid-19. Lokasi di tepi pantai hamparan padang yang cukup luas membuat kita lebih leluasa untuk memilih tempat yang diinginkan.

Pukul 08.30 apel peringatan HUT RI dilaksanakan oleh seluruh peserta baik tua, muda maupun anak-anak. Alhamdulillah pelaksanaan apel berjalan dengan lancar. Itulah apel pertama kaliku di tepi pantai.

Selesai apel seluruh peserta disajikan hidangan snack oleh panitia yang merupakan sumbangan dari anggota dan pengurus organisasi.
Selang beberapa menit kemudian minuman segar kelapa muda pun datang yang diberikan untuk seluruh peserta acara.

Alunan orkes yang mengiri jalannya acara hingga panggilan datang untuk suamiku  agar berkenan menyumbang sebuah lagu. Tidak hobi bernyanyi selama hidup bersamanya hanya terdengar sekali-kali bernyanyi lagu Indonesia Raya itupun flat akhirnya aku mewakilkannya, walaupun suaraku banyak false,  enjoy aja. Sudah ratusan purnama rasanya  tidak pernah bernyanyi di depan umum.

Acara semakin seru dengan berbagai kegiatan permainan. Hadiah unik yang disediakan panitia seperti pengharum cucian yang rentengan, penyedap masakan rentengan, teh, kopi, shampo dan lain-lain yang disediakan oleh panitia dalam bentuk rentengan panjang menambah keseruan dan keceriaan acara karena hadiah tersebut bisa dikalungi kepada pemenang.

Ditutup dengan menyanyikan lagu kemesraan dan foto bersama akhirnya acara selesai pukul 16.30 WITA. Sampai di rumah berberes, pukul 20.00 WITA saya melanjutkan kembali tulisan yang terhenti.

Sore itu mbak Bintang datang dengan pakaian yang sangat rapi, tidak seperti biasanya. Ketika bertemu penampilanya  cenderung tidak terurus.

“Permisi...” sahutnya
“Silahkan Mbak bisa duduk di sini.” Sambil mengarahkannya ke salah satu komputer. Semua peserta bersemangat selama pelatihan ini, aku ditunjuk sebagai instrukturnya sedangkan beberapa teman yang lain sebagai asisten yang membantuku ketika ada peserta kesulitan.

Sejak hari itu mbak Bintang semakin sering mengobrol denganku bahkan beberapa kali menghampiriku di kost.

“Mbak Alika, saya mau belajar komputer  serius, saya pengen menyelesaikan skripsi.”  Mbak Bintang membuka pembicaraan.
Aku terheran ternyata mbak Bintang  pernah kuliah
“Mbak Kuliah dimana?”
mbak Bintang menyebutkan salah satu Universitas Swasta yang cukup terkenal di kota itu.
“Jurusan apa Mbak?” tanyaku penasaran
“Teknik Arsitektur” balasnya
semakin besar penasaranku
“Saya sudah lama Mbak tidak menyelesaikan skripsi.”
“Mbak mulai kuliah tahun berapa?”
“Tahun 1989 Mbk”

Sudah 16 tahun yang lalu, saat itu aku seperti percaya dan tidak percaya. Tanpa terasa pelatihan sudah berjalan pada pertemuan keenam. Suatu pagi, aku dikejutkan dengan teman kosku, ia mengatakan ada yang mencariku. Aku penasaran, ternyata Mbak Bintang yang datang.

Hari itu ia membawa dua buah sirsak untuku, besar dan sudah matang. Memang di depan rumah mbak Bintang banyak ditanami pohon sirsak.

“Mbak Alika, kemaren saya ketemu dosen pembimbing, saya mau menyelesaikan skripsi saya,  dosennya menyuruh saya belajar auto cad", Mbak Alika ajarakan saya ya!“ Aku surprise, haru bercampur bingung, bagaimana mungkin sudah 16 tahun ia belum menyelesaikan skripsinya, apa dosen pembimbingnya masih melayaninya. Apa sebenarnya sudah di DO semua pertanyaan menghampiriku. Bagaimana caraku mengajarnya sedangkan menggunakan mouse saja belum mahir apalagi mengetik.

“Oh, dosennya suruh belajar auto cad ya Mbak?”
“Iya, saya mau belajar Mbak.”
“Iya, Mbk saya usahakan.”
Itu obrolanku dengannya pagi itu.

Sepulangnya semua teman kos tersenyum sambil penasaran dengan mbak Bintang yang dibilang masyarakat “stress”.

Beberapa kali mbak bintang datang ke kos membuat teman-teman sedikit waspada takut diamuki. Sesekali meledekku bahwa sohibku sekarang mbak Bintang.
Menurut berita yang beredar mbak bintang stress karena ditinggal oleh suaminya yang berasal dari daerah Timur. Sewaktu dulu rumah mbak bintang adalah kos-kosan mahasiswa yang berasal dari timur. Salah satunya menikah dengan mbak Bintang hingga memiliki anak. Tapi setelah selesai kuliah sang suami pulang kekampung halaman dan tidak pernah kembali lagi.

Aku mulai mempersiapkan modul buat mbak Bintang, belajar dari yang kecil-kecil aja dulu  pikirku minimal mbak Bintang lancar menggunakan Ms.word dan mahir menggunakan mouse dan keyboard.

Keesokan pagi, kuhampiri rumah mbak Bintang untuk memberikan modul. Untuk pertama kalinya aku masuk ke dalam rumah bertingkat yang sudah tidak terawat itu. Dari rumahnya sepertinya kehidupan mbak Bintang dulu cukup berada tapi keadaan berubah seperti yang kulihat hari itu kotor dan kusam.

“Permisi” sahutku ketika di depan rumah mbak Bintang. Sambutan dari orang tua mbak Bintang membuatku terharu bapak dan ibu mbak Bintang berulang kali mempersilahkanku masuk dan duduk.

monggo mbk monggo..monggo” tampak dari raut wajah orang tuanya sangat menghargai aku sebagai tamu dan membuatku terharu mungkin saja setelah sekian lama  rumahnya sudah tidak pernah ada tamu yang datang. Bisa jadi salah satunya karena anggapan masyarakat bahwasanya mbak Bintang stress.

Tanpa terasa sudah pukul 22.10 WITA mataku mulai mengantuk ditambah lagi paha terasa kaku dan pegal akibat mengikuti lomba memasukan paku ke dalam botol. Menerima instruksi naik , turun, geser ke kiri , ke kanan dan tahan membuat kaku sekitar paha dan kaki.
Keesokan hari rutinitas seperti biasa, hadir kesekolah akan tetapi siswa masih melaksanakan kegiatan belajar dari rumah. Kebetulan tidak ada jadwalku hari ini. Karena free  kumanfaatkan waktu mengerjakan dapodik memasukan KIP anak-anak dan mengecek ulang takut kelewatan . Jika ada data yang tidak dimasukan maka akibatnya cukup fatal siswa tidak akan menerima beasiswa.

Tanpa terasa telah pukul 12.00 WITA , keadaan sekolah sudah semakin sepi karena guru dan staff pada pulang istirahat siang. Sampai di rumah aku teringat dengan mbak Bintang, kucoba  mengingat-ingat memori 15 tahun silam. Setelah memberikan modul kepada mbak Bintang, aku kembali di beri buah sirsak yang sudah matang. Sewaktu pamit bapak dan ibunya menyampaikan sepatah kata buatku,
 “sering-sering main ke sini ya Mbak, biar Mbak Bintang ada temannya.”

Tapi itulah terakhirku bertemu dengan mbk Bintang. Aku lupa pastinya, kucoba mengingat-ingat saat itu aku juga sedang mempersiapkan ujian skripsi hingga lulus dan melamar pekerjaan hingga pindah dari sana.

Mbak Bintang sangat ingin menyelesaikan skripsinya, tapi aku sedikit sangsi saat itu cenderung menganggap mbak Bintang seperti berhalusinasi. Tapi, aku juga surprise ketika dia mengatakan dosen pembimbing menyuruhnya untuk belajar auto cad. Aku ingin sekali ikut ketika ia bertemu dosen pembimbingnya, tapi hatiku lebih percaya dengan kata-kata masyarakat sekitar jika mbak Bintang stress.

Hari ini ada sedikit penyesalan dariku mengapa tidak aku support dia menyelesaikan skripsinya. Keraguanku mengalahi semangatku karena 16 tahun telah berlalu dengan kondisi seperti saat itu. Apakah mbak Bintang bisa belajar ketinggalannya dengan segala kondisi yang ada pada dirinya? Aku memutuskan untuk menjauhinya  hingga meninggalkan kota itu tanpa pamit dengannya.



Posting Komentar

4 Komentar