/> Loloan, Kampung Muslim Jembrana Bali

Loloan, Kampung Muslim Jembrana Bali



LOLOAN KAMPUNG MUSLIM JEMBRANA BALI



Membaca buku pesona kearifan lokal membawa kita seperti menjelajah sebagaian wilayah Indonesia 

        Jembrana adalah kota keenam yang menjadi tempat tinggalku. Tidak pernah terbayangkan untuk tinggal di kabupaten yang terletak di ujung barat Provinsi Bali ini.  Berbeda dari kota-kota yang pernah saya kunjungi, Jembrana merupakan kota terlama kedua yang saya tempati sekarang sudah memasuki tahun kesepuluh. Posisi pertama adalah tempat  kelahiran saya, sekitar 18 tahun saya tinggal di Kota Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau dari lahir hingga  tamat SMA saya berada di sana. 
Selanjutnya kota kedua yaitu Yogyakarta, saya berada di kota pelajar ini sekitar lima tahun untuk menempuh pendidikan jenjang S1, tempat ketiga adalah kota Denpasar, saya berada di sini sekitar tiga tahun, keempat Kabupaten Serang Provinsi  Banten tepatnya di Kecamatan Cinangka, saya berada disana sekitar satu  tahun dua bulan dan posisi terakhir di Provinsi Jambi tepatnya Kecamatan Sungai Bahar Kabupaten Muaro Jambi, sedangkan tempat lain hanya sekedar kunjungan pendidikan dan pelatihan (Diklat) ataupun sekedar kunjungan wisata yang hanya hitungan hari.

Masing-masing kota memiliki ragam, budaya yang khas dan unik begitu pula dengan Kabupaten Jembrana. Penduduk  mayoritas beragama Hindu ini berbeda dengan kabupaten lain yang ada di Provinsi Bali. Pertama saya datang di Provinsi Bali adalah di kota Denpasar saat itu saya cukup kesulitan untuk menemukan masjid atau mushola. Karena  baru  berada di kota tersebut saya belum tahu letak masjid di sana. Setiap hari saya jarang sekali mendengarkan suara adzan. Terkadang suara adzan  terdengar  samar-samar dan terdengar jelas saat  subuh.
Berbeda halnya ketika saya berada di Kabupaten Jembrana, memasuki wilayah perbatasan antara Kabupaten Tabanan dengan Jembrana Kecamatan Pekutatan Desa Pulukan kita sudah bisa menemukan masjid di sekitar area tersebut. Setiap kecamatan kita bisa menemukan masjid di kabupaten ini.  Apalagi di  Kecamatan Negara yang merupakan ibu kota Kabupaten Jembrana tepatnya di Kelurahan Loloan Timur, ketika waktu sholat tiba, kumandang adzan saling sahut menyahut dari satu masjid ke masjid lain. Awalnya saya terheran mendengar kumandang adzan disini  tidak hanya dari satu masjid tapi dari beberapa masjid terdengar sangat jelas ternyata lingkungan ini disebut dengan Kampung  Loloan yaitu Kampung Muslim di Jembrana-Bali.
Kelurahan Loloan terbagi menjadi dua yaitu Loloan Timur dan Loloan Barat. Bagi pendatang baru yang beragama Islam jika berada dilingkungan ini, tidak akan menyangka jika kita berada  di pulau dewata. Kegiatan keagamaan seperti sholat, tilawah qur,an kegiatan hari besar agama, pengajian, terlaksana seperti di kota-kota lain yang mayoritas beragama Islam. Belum lagi ketika bulan Ramadhan tiba, menu ta’jil untuk berbuka puasa sepanjang jalan Kecamatan Loloan Timur dan Loloan Barat berjejer aneka kuliner khas Loloan.
 Salah satu kuliner yang terkenal disini yaitu ayam betutu. Ayam betutu merupakan masakan khas masyarakat Jembrana. Ayam betutu yang popular di Jembrana yaitu ayam betutu Gilimanuk, bagi wisatawan yang baru datang ke Bali melalui jalur darat akan tiba di pelabuhan penyebrangan Ketapang-Gilimanuk. Biasanya wisatawan yang ingin menyicipi ayam betutu akan mampir di rumah makan ayam betutu yang berada sekitar dua kilometer dari pelabuhan.
Selain ayam betutu, masakan khas lainnya yaitu plecing. Plecing adalah ayam suwir atau daging suwir yang diberi bumbu sepeti cabe, bawang merah, bawang putih dll. Memiliki rasa yang khas apalagi plecing ayam kampung yang dibakar memiliki aroma dan rasa yang sangat lezat. Selain makanan berat terdapat juga aneka jajanan khas Loloan seperti : kue lapis, kue cucur, serabi, onde-onde dan aneka jajan tradisional khas kampung Loloan.  Setiap hari kita bisa menikmati aneka jajan khas di kampung Loloan ini tidak hanya dibulan Ramadhan. Kampung Loloan ini  pernah diliput oleh beberapa media elektronik salah satunya NET TV beberapa tahun lalu.
Selain kuliner di Kampung Loloan  ini juga terdapat makam para wali yang disebut dengan wali pitu (wali tujuh)  yaitu makam Habib  Ali Bafaqih yang berada di Loloan Barat setiap hari ramai sekali bus-bus dari luar daerah yang berkunjung ke makam Habib  Ali Bafaqih untuk wisata religi di kampung ini selain makam Habib Ali Bafaqih juga ada makam Buyut Lebay yang merupakan tokoh penyebar Islam di Kampung Loloan.
Tidak sampai disitu bagi Anda yang baru berkunjung di kampung ini akan sangat surprise mendengar bahasa sehari-hari masyarakat Loloan.  Bahasa yang digunakan adalah campuran atara bahasa Melayu, Bali dan Bugis. Hal ini disebabkan kedatangan orang Melayu di Bali tercatat pada tahun 1669 ketika empat ulama dan pengikutnya tiba di Jembrana untuk menyebarkan ajaran Islam di Bali. 
Misi tersebut diizinkan oleh Raja Jembrana I Gusti Arya Pancoran. Keempat ulama tersebut ialah Dawan Sirajuddin dari Sarawak, Kekaisaran Brunei, Syeikh Basir dari Yaman, Kesultanan Ustmaniyah Mohammad Yasin dari Makasar dan Syihabbudin juga dari Makassar. 
Sehingga jangan heran jika bertemu dengan masyarakat Loloan kita akan mendengarkan percampuran bahasa tersebut tapi bahasa yang paling melekat adalah bahasa Melayu. Perbedaan bahasa Melayu di Kampung Loloan dengan bahasa melayu Riau terletak dari logat. Bahasa Melayu Kampung Loloan hampir sebagian kata menggunakan akhiran an dalam pengucapannya contoh : kire-an, agak-an, berape-an. Selain bahasa hal yang menarik lainnya adalah ketika perayaan Maulid Nabi SAW. 
Perayaan ini hampir dilaksanakan di seluruh Masjid, Mushala bahkan di pengajian-pengajian. Perayaan Maulid Nabi SAW di kampung Loloan berlangsung sangat meriah dengan tradisi ‘ngarak male’ (dibaca malai) yaitu telur rebus yang dihias dan dibentuk untaian menjulang  dalam berbagai bentuk seperti masjid, kapal, pohon, bunga dan lain sebagainya sesuai kreasi masing-masing. Biasanya yang membuat telur male ini adalah masyarakat yang memiliki anak bayi dibawah umur satu tahun yang akan mengikuti tradisi cukur rambut diadakan secara masal di masjid, mushalla ataupun dipengajian sebagai simbol berakhirnya masa bayi. Sebelum male di bawa ke masjid masyarakat mengadakan ritual ngarak male.
Setiap tahun  yang mengikuti cukur rambut ini cukup banyak sekitar 10  hingga 15 anak permasjid. Saat acara cukur masing-masing orang tua (ayah si bayi) menggendong bayinya dengan didampingi satu orang  yang membawa talam berisi  alat cukur , kelapa  gading, beras kuning, uang dan alat riasan. Saat acara cukur rambut dilaksanakan semua jamaah berdiri sambil shalawatan. Selesai dicukur anak dibawa pulang kerumah masing-masing untuk dimandikan dengan air kelapa gading, kemudian anak dirias.
Banyak sekali kearifan lokal yang ada di Kampung Loloan ini. Untuk menjaga tradisi agar tidak tergerus zaman kampung Loloan mengadakan pameran Loloan Tempo Doloe atau dikenal oleh masyarakat (Loloan Jaman Lame) Acara ini berlangsung pada bulan September Dalam pameran “Loloan Tempo Doloe” menampilkan susasana Loloan saat belum ada listrik, pengantin Loloan jaman dulu, burdah, stand dapur jaman dulu yang masih menggunakan tungku, kayu bakar serta memperagakan cara menggunakan alat masakan tradisional, makan sirih, pencak silat dan pameran foto Loloan tempo dulu. 
Acara ini bertujuan agar tradisi ini tidak punah, sehingga masyarakat Jembarana dan  terkhusus anak-anak muda masih mengetahui kerarifan lokal budaya masyarakat kampung Loloan tempo dulu.
Itulah kearifan lokal yang ada di Kampung Loloan Jembrana-Bali, walaupun hidup dilingkungan  mayoritas Hindu  sebagai pendatang saya merasa kagum sekali dengan kerukunan hidup beragama. Akhir- akhir ini kita sering terusik dengan toleransi umat beragama akan tetapi di Pulau Bali khususnya di kab Jembrana masih terjaga dengan baik. Meski berbeda keyakinan kaum Muslim dengan Hindu bersaudara, bahkan, bahu-membahu berjuang melawan penjajah  dizaman dahulu dan alhamdulillah kerukunan dan persaudaraan ini masih terpelihara dengan baik sampai dengan hari ini.

  

Posting Komentar

8 Komentar

  1. Mantap bu
    Ada Kecamatan Negara ya...Jangan2 di sana mayoritas penduduknya adalah orang nagara. Maksud saya org yg berasal dari daerah saya ini (daerah nagara). He...he..he

    BalasHapus
  2. BALI
    Saya baru bisa bercerita berdasarkan katanya... heheheh
    karena saya belum pernah mampir kesana..
    Saya baru bisa mampir ke blog ini yang penulisnya menetap di Bali.

    BalasHapus
  3. Aih, jadi pengen ke Loloan lagi. Dulu sempat mampir tahun 2010. Setelah itu setiap ke Bali gak pernah ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ternyata sudah ke sini ya, 2010 sy udah di Loloan

      Hapus