/> 3 Cara Mengelola Sampah Pribadi

3 Cara Mengelola Sampah Pribadi




S

ampah merupakan masalah yang  sangat krusial. Penanganan sampah harus mendapatkan perhatian serius. Bagaimana tidak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengakui bahwa pada tahun 2020 total produksi sampah nasional telah mencapai 67,8 juta ton. Artinya, ada sekitar 185.753 ton sampah setiap harinya dihasilkan oleh 270 juta penduduk. Ini berarti setiap orang menghasilkan 0,68 kilogram sampah per hari.

Permasalahan sampah tidak akan pernah berakhir karena setiap orang selalu menghasilkan sampah. Jika kita tidak peduli, bisa dibayangkan bagaimana 2 dekade kedepan hal yang menakutkan bisa saja terjadi bumi akan tertimbun dengan sampah.

Maka dari itu Waste Management Indonesia hadir untuk mensosialisasi dan membimbing masyarakat bagaimana cara mengelola sampah dengan benar.

Hal tersebut bertujuan untuk menekan lajunya pertumbuhan sampah yang berasal dari perusahaan dan individu yang merupakan tanggungjawab mereka.

Banyak kita temukan kesadaran seseorang mengenai sampah masih sangat buruk. Mereka dengan santai membuang sampah di sembarangan tempat tanpa ada rasa khawatir ataupun malu sama sekali. Seolah-olah apa yang mereka lakukan merupakan hal yang wajar. 


Padahal ketika seseorang membuang sampah di tempat yang telah disediakan saja, masalah sampah belum berakhir karena terkait dengan Tempat Penampungan Sampah (TPA) yang sangat terbatas, apakah lagi jika membuang sampah di sembarangan tempat.

Di awal tahun 2021 musibah banjir terjadi dimana-mana. Tidak hanya di Jakarta sebagai kota yang padat penduduk yang hampir setiap tahun menjadi langganan banjir. Tapi kini banjir sudah merambah ke daerah-daerah yang dulunya belum pernah terjadi.

Selain penebangan hutan secara liar, pembangunan yang tidak mengikuti AMDAL, sampah merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya banjir. Bahkan sebagian besar sampah yang berasal dari rumah tangga ikut andil menjadi pemicunya.

Berangkat dari permasalahan sampah yang ada, akhirnya saya pun mencoba mewawancarai dua orang rekan kerja saya, bagaimana cara mereka melakukan Pengelolaan Sampah pribadi ataupun Personal Waste Management.


Cara saya mengelola sampah di rumah tangga saya sebagai berikut: kebetulan rumah saya itu masih berdekatan dengan kebun kosong. Kalau sampah plastik saya bakar di sana, kalau yang sampah organik itu saya masih buang di bawah pohon pisang sekalian sebagai pupuk kompos.

Sebenarnya saya ingin sampah plastik tidak dibakar karena pencemaran udara, akan tetapi karena kendala di desa saya yang utama adalah tentang kontainer yang setahun belakang ini tidak tahu keberadaannya sehingga warga sulit membuang sampah pada tempatnya.

Saya punya dua tong sampah di rumah sebenarnya tujuan utamanya adalah yang satu itu untuk sampah non-organik yang satu lagi adalah untuk sampah organik. Memang kendala masih ada yaitu anak-anak saya yang masih mencampur sampah organik dan non organik sehingga membuat saya dua kali kerja memilah sampah. Sewaktu ada kontainer sampah yang sering saya buang adalah sampah non organik akan tetapi semenjak menghilangnya keberadaan kontainer terpaksa saya bakar sampah plastik di halaman kosong di belakang rumah. (Ni Nyoman Widi Andayani)


          Tidak berbeda jauh dengan Bu Widi rekan saya Bu Ariantini juga mengelola sampah rumah tangga dengan memisahkan antara sampah organik dan non organik. Untuk sampah non organik yang bisa dijual Bu Ari pisahkan jika telah banyak ia jual kepada pengepul sedangkan untuk sampah plastik yang tidak bisa dijual beliau bakar karena permasalahan yang sama tidak tersedianya kontainer di sekitar area tempat tinggal. Sedangkan untuk sampah organik digunakan sebagai pupuk kompos.


Baca juga : Extended Producer Responsibility Indonesia 


        Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan perlunya kerjasama antara masyarakat dengan pemerintah agar bersinergi. Pentingnya keberadaan kontainer sebagai wadah tempat pembuangan sementara disediakan di masing-masing desa. Salah satu penyebab masyarakat membuang sampah sembarangan adalah keberadaan kontainer sampah yang terbatas bahkan tidak tersedia sama sekali di desa tempat tinggal mereka.

Akan tetapi sebagai warga yang baik hal tersebut jangan menjadi alasan untuk membuang sampah sembarangan apalagi jika di sungai.  Membuang sampah itu hanya menghilangkan dari pandangan mata kita sesaat, sejatinya sampah tersebut hanya berpindah tempat.

Dari berbagai permasalahan yang muncul Waste4Change hadir membantu masyarakat dan pemerintah untuk mengurangai lajunya pertumbuhan sampah di tanah air.

Dari berbagai sosialisai yang dilakukan Waste4Change kita akan mengetahui bagaimana seharusnya masyarakat  menyikapi sampah yang merupakan tanggung jawabnya masing-masing.

Berikut ini saya simpulkan ada 3 cara mengelola sampah  sebagai bentuk tanggungjawab pribadi:


1. Pisahkan Sampah Sesuai Dengan Jenisnya.

sumber gambar: pixabay.com




sumber waste4change



Sobat, mari kita biasakan diri ketika memiliki sampah kita pilah-pilah terlebih dahulu sampah berdasarkan jenisnya. Sebaiknya kita bedakan menjadi 3 jenis, yaiut: sampah organik, sampah plastik dan sampah metal. 

Untuk sampah organik seperti: dedaunan, sisa makanan kita kumpulkan menjadi satu jika  memiliki halaman belakang yang masih ada lahan bisa dibuat lubang sedalam 1 hingga 2 meter untuk kita gunakan sebagai pembuangan sampah khusus sampah organik yang nantinya bisa menghasilkan pupuk kompos.

Jika tidak memiliki lahan bisa kita siasati dengan membuat lubang biopori, khusus untuk membuang sisa makanan.

Sedangkan sampah plastik yang masih memiliki nilai seperti botol plastik dapat kita jual kepada pengepul.

 

2. Mulailah Menggunakan Produk Reuse



Sebagai ibu rumah tangga sudah barang tentu kita selalu membeli kebutuhan rumah tangga baik itu perlengkapan memasak, mandi dan sebagainya.

Mulailah membiasakan menggunakan produk reuse seperti tas belanja. Hindari penggunaan plastik, gunakanlah tas belanja yang ramah lingkungan. 

Gunakan pembalut dan popok yang berbahan kain. Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) menyatakan jumlah penduduk Indonesia hingga Desember 2020 mencapai 271.349.889. Jika usia produktif wanita sekitar 100 juta, maka tak terbayangkan betapa banyaknya penggunaan pembalut bagi wanita. Maka berapa ton sampah yang dihasilkan hanya dari pembalut saja.

Belum lagi jumlah Balita yang menggunakan popok keluaran pabrik. Maka dari itu mari kita mulai dari diri kita sendiri untuk beralih ke pembalut kain dan popok kain yang sekarang sudah banyak yang dijual dengan kualitas yang nyaman. Selain dapat menghemat pengeluaran, pengurangan sampah dari pembalut juga ikut berkurang.


3. Mari Kita Terapkan Sistem 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle).



Reuse menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan. Reduce mengurangi penggunaan bahan yang dapat merusak lingkungan. Recycle mendaur ulang sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

 

Itulah 3 hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi sampah. Ayo! Kita mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil dan mulailah saat ini juga untuk menekan lajunya pertumbuhan sampah, demi menyelamatkan bumi.

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021.

Penulis : Rita Wati,S.Kom

 

Posting Komentar

46 Komentar

  1. 🤩🤩🤩
    Bagus sekali artikelnya..
    Yg masih terkendala jg tentang sampah tntg kesadaran diri penggunaan bahan-bahan yg bisa didaur ulang & ramah lingkungan.

    Tapi sampah dapat bermanfaat ditangan* org yg kreatif🤗

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya benar kesadaran yang kurang minimal jangan membuang sampah sembarangan

      Hapus
  2. Semoga menang Bu ... membiasakan diri.memhusng sampah pada tempatnya, masih persoalan baik di sekolah maupun di kampung ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Terimakasih Pak Ari, ya sampah masih menjadi persoalan dimana-mana.

      Hapus
  3. Membuang sampah itu hanya menghilangkan dari pandangan mata kita sesaat

    Kalimat ini benar-benar membuat saya ditegur dengan keras.

    Terimakasih sudah berbagi informasi yang mengedukasi.

    Sehat selalu Ibu R174

    BalasHapus
  4. Terimakasih Pak Indra salam sehat

    BalasHapus
  5. Terimakasih bu rita..semoga kita bisa mengelola sampah dengan baik.mulai dari kita, lingkungan kita merambah pada tetangga kita semoga semua elemen masyarakat sadar akan pentingnya mengelola sampah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya bu Atik kita harus bersinergi untuk mengatasi masalah sampah

      Hapus
  6. Persoalan sampah ini memang ruwet sekali ya

    Semoga menang lombanya, Bu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar bu ruwet sekali perlu kesadaran dari masing-masing individu. Aamiin terimakasih Bu Pipit atas doanya.

      Hapus
  7. Bener banget bu, untuk bisa mengolah sampah perlu adanya kesadaran individu tersebut. semoga tulisan ibu ini bisa diaplikasikan oleh orang membacanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga dengan tulisan ini bisa mengingatkan kita bersama

      Hapus
  8. Sampah mmng menjadi masalah yg bikin pusing. Dibakar jd polusi udara. Dibuang ga ada tempat pembuangan sampah di kampungku. Kecuali, sisa makanan bisa dikasih ke ayam2 tetangga..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar bu, semoga semakin luas jaringan perusahaan atau organisasi yg mengelola smph sehingga dpt menekan lajunya prtumbuhan sampah

      Hapus
  9. Terimakasi infoy Bunda. Memang Masyarakat susah srksli sadarnya. Di lingkungan saya, mereka membuang sampah pinggir jalan. Pemerintah juga tidak nenyediakan kontener tempat sampah.
    Betul harus ada kerjasama antara Pemerintah dan Masyarakat.

    BalasHapus
  10. Bunda Rita, trimks share ilmunya ttg cara memilah sampah keren... Betul sekali sama di rumah ibu juga sampah basah sama yg kering dipisahkan. Lumayan sampah dr botol2 dll bisa dikasihkan ke emang sampah

    BalasHapus
  11. wah terima kasih ats ilmu nya.... luar biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih kembali Bu Aan yang telah berkunjung

      Hapus
  12. Terimakasih ilmunya lengkap sekali. Masalah sampah merupakan masalah yg susah sekali, apalagi kurangnya kesadaran masyarakat. Mulailah dari yg kecil, mulai dari diri sendiri. Semoga sampah bisa bermanfaat, bukan menjadi bencana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih kembali Bu Ai, next semoga bukan menjadi bencana lagi akan tetapi menjadi bermanfaat jika menerapkan prinsip 3E

      Hapus
  13. Trims bu rita sdh menjadi penyambung lidah sy dimana memang keberadaan kontainer sangat diperlukan oleh masyarakat.mudah2an ada pihak yg berkompeten membaca artikel cikgurita ini.mungkin ada satu hal lagi yaitu ttg kesadaran para ibu balita yg balitanya menggunakan popok buatan pabrik banyak yg sy sendiri temui cara membuangnya belum apik.dimana kita ketahui popok yg sdh terpakai merupakan sasaran empuk anjing liar shg akan diserakkan di jalan.itulah mungkin salah satu penyebab kontainer yg ada di desa sy ditiadakan selain alasan yg kedua yaitu bau.mungkin menjadi pemikiran kita bersama bagaimana cara spy popok bayi yg sdh terpakai tdk menjadi pemandangan yg kurang indah apabila berserakan di jalan.....
    Mudah2an sukses bu rita 💪💪

    BalasHapus
  14. Trims bu rita sdh menjadi penyambung lidah sy dimana memang keberadaan kontainer sangat diperlukan oleh masyarakat.mudah2an ada pihak yg berkompeten membaca artikel cikgurita ini.mungkin ada satu hal lagi yaitu ttg kesadaran para ibu balita yg balitanya menggunakan popok buatan pabrik banyak yg sy sendiri temui cara membuangnya belum apik.dimana kita ketahui popok yg sdh terpakai merupakan sasaran empuk anjing liar shg akan diserakkan di jalan.itulah mungkin salah satu penyebab kontainer yg ada di desa sy ditiadakan selain alasan yg kedua yaitu bau.mungkin menjadi pemikiran kita bersama bagaimana cara spy popok bayi yg sdh terpakai tdk menjadi pemandangan yg kurang indah apabila berserakan di jalan.....
    Mudah2an sukses bu rita 💪💪

    BalasHapus
  15. Trims bu rita sdh menjadi penyambung lidah sy dimana memang keberadaan kontainer sangat diperlukan oleh masyarakat.mudah2an ada pihak yg berkompeten membaca artikel cikgurita ini.mungkin ada satu hal lagi yaitu ttg kesadaran para ibu balita yg balitanya menggunakan popok buatan pabrik banyak yg sy sendiri temui cara membuangnya belum apik.dimana kita ketahui popok yg sdh terpakai merupakan sasaran empuk anjing liar shg akan diserakkan di jalan.itulah mungkin salah satu penyebab kontainer yg ada di desa sy ditiadakan selain alasan yg kedua yaitu bau.mungkin menjadi pemikiran kita bersama bagaimana cara spy popok bayi yg sdh terpakai tdk menjadi pemandangan yg kurang indah apabila berserakan di jalan.....
    Mudah2an sukses bu rita 💪💪

    BalasHapus
  16. Trims bu rita sdh menjadi penyambung lidah sy dimana memang keberadaan kontainer sangat diperlukan oleh masyarakat.mudah2an ada pihak yg berkompeten membaca artikel cikgurita ini.mungkin ada satu hal lagi yaitu ttg kesadaran para ibu balita yg balitanya menggunakan popok buatan pabrik banyak yg sy sendiri temui cara membuangnya belum apik.dimana kita ketahui popok yg sdh terpakai merupakan sasaran empuk anjing liar shg akan diserakkan di jalan.itulah mungkin salah satu penyebab kontainer yg ada di desa sy ditiadakan selain alasan yg kedua yaitu bau.mungkin menjadi pemikiran kita bersama bagaimana cara spy popok bayi yg sdh terpakai tdk menjadi pemandangan yg kurang indah apabila berserakan di jalan.....
    Mudah2an sukses bu rita 💪💪

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk menangani sampah semua harus bersinergi .

      Hapus
  17. Terkait sampah sering membayangkan teknologi Jerman yang dapat mengubah sampah menjadi tenaga listrik dan minyak. Kapan ya waktu itu datang. Kesadaran dan disiplin kita dalam membuang sampah masih menjadi PR besar untuk menuju ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bu ya sampah tidak menjadi bencana tapi menjadi daya guna

      Hapus
  18. sampah memang persolan yang tidak mudah...

    BalasHapus
  19. Sampah selalu jadi persoalan. Perlu dicoba juga menanamkan sejak dini kepada anak melalui teladan dan pembiasaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keteladanan contoh nyata, terutama bagi anak-anak yg suka meniru

      Hapus
  20. Sampah selalu menjadi dilema

    BalasHapus
  21. Seandainya setiap orang sudah memiliki pemahaman tentang pengelolaan sampah pribadi seperti ini pasti lingkungan sekitar akan terjaga dari sampah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar Pak Iroen, perlu sosialisailsi terus menurus

      Hapus
  22. Popok plastik memang lebih praktis, karena sekali pakai, langsung buang. Kalau popok kain, apalagi kalau BAB, kadang kotorannya susah dihilangkan. Jadi, yang bagus? Solusinya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau untuk menjaga lingkungan popok kain pak, memang ortu sedikit bekerja lebih untuk membersihkannya. Kalau popok pabrik memang meringankn pkrjaan ortu tp memberatkan permasalahan sampah.

      Hapus
  23. Jangan buang sampah sembarangan..
    Basi...
    Secara sadar atau tidak..
    Tangan selalu bergerak spontan melempar puntung rokok. Bungkus cemilan dll.
    Kalau ditempat kami sampah dikumpulkan lalu diserak kembali di TPA yang tak resmi..
    Sampah oh sampah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus terus di kampanyekan jangan membuang sampah sembarangan walaupun masih ada yg tdk menghiraukan. Tp setidaknya sudah ada peringatan. Tinggal dibuat sanksi tegas aja. Terimakasih Bu Syafrina sudah berkunjung

      Hapus
  24. Terima kasih Bund ilmunya. Baru yahu kalau ada pembalut wanita dari kain. Saya pikir buat sendiri pakai kain selendang, atau kaos dalam gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Susah ada pak yg jual dengan kualitas dan model yg okay :)

      Hapus
  25. "Membuang sampah itu hanya menghilangkan dari pandangan mata kita sesaat, sejatinya sampah tersebut hanya berpindah tempat."

    Kalimat ini sungguh telah menyadarkan saya mengenai sampah.

    Tulisannya keren Bu, informatif, persuasif.

    Saya juga suka gemas bila sedang bepergian dan sulit mencari tempat sampah.

    Semoga bisa lebih maksimal lagi dalam mengolah sampah rumah tangga.

    Terima kasih Bu Rita.

    BalasHapus
  26. Sampah dapur seperti sisa makanan/sayuran di dapur bisa diolah jadi kompos mbak. Sy lagi nerapin itu di rumah. Tidak boleh ada yg terbuang, apa yg berasal dari alam harus dikembalikan ke alam. Smg menang mbak!

    BalasHapus