My Special Guest


    Sejak 2011 saya tinggal dilingkungan ketugtug ada satu tamu yang special yang selalu hadir di setiap lebaran. Program rutin sebelum lebaran kami sekeluarga mudik ke Jawa atau ke Kepri, akan tetapi tahun ini karena pandemic dilarang untuk mudik maka kami berlebaran dilingkungan tempat tinggal. Kedatangan tamu special (tidak bisa bicara) ini biasanya ketika kami pulang mudik. Ketika bertamu ia selalu menceritakan bahwa ia ingin kerumah akan tetapi tidak ada orang , pintu pagar terkunci dia berfikir “oo ini pasti lagi mudik”. Biasa nya setelah pulang mudik dia bertanya mudik kemana dengan kode tangan bergelombang yaitu mudik kejawa menggunakan kapal laut , atau tangan keatas kode pesawat terbang mudik ke Kepri.

   Awal perkenalanku dengan tamu special ini sangat unik, ada orang yang nyelonong masuk kerumah tanpa ucapan salam, saat itu aku bingung dan menyapa "mau cari siapa" dia menjawab dengan kode tangan dari situ aku mengerti jika ia tidak bisa bicara ternyata ia hanya ingin berkenalan denganku yang merupakan pendatang baru, dari sejak perkenalan itu hingga kini dia mengerti kalau aku berasal dari jauh Kepulauan Riau kalau pulang mudik dengan pesawat sedangkan suami dari Jawa kalau mudik melewati jalur laut.

Lebaran hari keempat tahun 1441 Hijriyah seperti biasa ia bersilaturahmi kerumah ada suara ketuk pintu akan tetapi suara ketukan itu sangat keras “tok..tok..tok” , tidak ada ucapan salam benar saja ternyata tamu special yang datang. Ku persilahkan ia duduk sambil membuka toples camilan sambil mengobrol dengan bahasa isyarat yang tidak formal karena ia tidak pernah mengenyam pendidikan dan aku juga tidak pernah belajar bahasa isyarat akan tetapi kami saling mengerti satu sama lain.

         Obrolan pertamanya adalah tentang virus, wow luar biasa walaupun tidak bisa bicara dia cukup mengikuti perkembangan berita saat ini, ia mengatakan dengan kode-kode jika kita harus jaga jarak, pakai masker dan selalu cuci tangan. Dia mengatakan lebaran kali ini tidak semeriah dulu ada orang  yang open house dan ada juga yang close house. Obrolan selanjutnya ia menanyakan sholat Ied dimana? dengan kode tangan ketika Takbiratul Ihram, “dirumah aja” jawabku dengan kode menunjuk lantai. Obrolan makin seru ketika dia menanyakan kepadaku kenapa tidak mudik? dengan kode tangan menyetir dan gelombang kapal yang artinya mudik ke Jawa mobil masuk ke kapal penyeberangan dari Gilimanuk – Ketapang, aku menjelaskan dengan kode  hormat, 5 jari  kedepan dan telunjuk memutar yang artinya tidak boleh mudik nanti disetop oleh polisi dan disuruh putar balik. Ia mengambil bungkusan lalu menempelkan kekening kemudian melihat bungkusan tersebut ia mengacungkan jempol dan tangan diayunkan kedepan kembali ia melihat bungkusan mengernyitkan dahi, 5 jari digerakan kekiri dan kekanan kemudian  telunjuk memutar. Aku mengerti apa yang ia jelaskan jika keluar ada pengecekan suhu badan jika suhu badan normal bisa lewat jika tidak disuruh putar balik dilarang lewat.

     Obrolan yang tak kalah serunya adalah ketika ku menanyakan perhiasan kalung yang ia pakai, sambil memberikan kode pegang leher jempol dan kode ujung jari telunjuk dan jempol yang diusap, dengan maksud menanyakan kalungnya bagus berapa harganya? Spontan dia memijam HP ku mencari menu kalkulator dan dia mengetik angka 4.000.000 dia mengerti uang dan angkanya. Obrolan berlanjut ke baju lebaran, ia menceritakan jika ia menjahit baju lebaran dengan kode tangan digerakan kebawa seperti orang sedang menjahit baju dengan mesin. Jahitannya bagus rapi , pas dibadan dan ia suka tapi ongkosnya agak mahal Rp. 100.000,- katanya , dia menunjukan lokasi dengan kode tangan dan dia juga menceritakan dia pernah menjahit baju didekat rumahnya upahnya agak murah Rp.70.000,- dengan kode 7 jari akan tetapi jahitanya jelek dan gak enak dipakai katanya. Obrolan kami sangat seru saya mengerti apa yang ia bicarakan dan begitu juga sebaliknya. Sekitar 15 menit ia bertamu dan pamit tidak lupa kuselipkan amplop kepadanya sebagai tanda ucapan terimakasihku yang tetap bersilaturahmi kerumah. Kutemani ia sampai di pintu pagar dan ia melihat bel , ia bertanya itu apa? aku menjawabnya "bel" sambil memeberikan kode percikan jari ditelinga dia mengangguk sambil mengarahkan 5 jari ditelinga dan jari telunjuk mengarah kedalam rumah yang artinya suaranya keras kedengaran sampai dalam.

          Itulah cerita tentang tamu special ku setiap tahun dia selalu menyempatkan diri untuk bertamu kerumah, terkadang jika keluarga kami mudik bisa sangat lama sekitar 2 minggu bahkan lebih jika bertepatan dengan libur panjang  akan tetapi sejak berkenalan dia tidak pernah absen untuk bersilaturahmi kerumah khususnya di hari lebaran. Walaupun tidak bisa bicara ia tetap rajin menyapa jika bertemu diluar selain itu semangat bekerjanya juga diacungi jempol menjadi ART dan panggilan untuk menyetrika ia lakoni dan uang yang didapati ia tabung untuk dibelikan perhiasan.

 Terkadang Allah sengaja mempertemukan kita dengan orang-orang yang special agar kita selalu bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki, jangan pernah mengeluh dan bermalas-malasan apalagi kondisi fisik kita yang jauh sempurna dari mereka yang berkebutuhan khusus. Semoga kita bisa memetik hikmah dan mengambil pelajaran dari orang-orang yang special yang dipertemukan Allah kepada kita betapa mereka sangat bersemangat, optimis dalam mengarungi kehidupan.

Stop mengeluh dan syukuri apa yang ada

Salam optimis by r_p


Posting Komentar

10 Komentar


  1. Nice mb rita.. terima kasih sdh berbagi cerita ini.. salam cinta dari Jogja 😚💜

    BalasHapus
  2. Benar2 melankolis hati saya membaca

    BalasHapus
  3. Semangat menulis bun rita..

    BalasHapus
  4. Betul.. perbanyak ikhlas... kurangi mengeluh

    BalasHapus
  5. Semangat selalu bersyukur dan bersyukur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih bu Tini , syukuri apa yg ada

      Hapus