/> Gurindam Dua Belas di Pulau Penyengat

Gurindam Dua Belas di Pulau Penyengat

 

Masjid Raya Sultan Pulau Penyengat

Tadi malam 6 Oktober 2020 ada yang menarik dari webinar perdana AISEI batch 2. Nara sumber Prof Ekoji yang menceritakan asal mula ia senang menulis karena membaca. Hal itu tentu saja lumrah karena membaca dan menulis seperti dua sisi mata uang saling melengkapi.

Akan tetapi yang membuat saya menjadi passion adalah ketika beliau menyampaikan tentang gurindam 12. Tentu saja memori saya langsung terbangun. Gurindam 12  salah satu puisi syair lama merupakan karya Raja Ali Haji seorang sastrawan  dan pahlawan dari pulau penyengat Provinsi Kepulauan Riau.

Pada saat saya sekolah membaca Gurindam ini terdapat di pelajaran bahasa Indonesia. Cara membaca Gurindam ini seperti bersenandung akan tetapi kita harus bisa mengatur nafas dan ritme dengan tepat agar lantunan syair menjadi indah di dengar.Hingga kini saya pun  tidak berhasil melantunkan syair Gurindam dengan tepat dan merdu.

Acara Tasyakuran Melepas Niat


Gurindam 12 terdiri dari 12 pasal yang berisi nasihat dan petunjuk hidup yang  tersirat maupun tersurat agar hidup di ridhoi Allah Swt. Tulisan Gurindam 12 ini menjadi salah satu icon wisata sejarah yang ada di pulau penyengat Provinsi Kepulauan Riau di mana masing-masing pasal terpisah-pisah letaknya seperti pasal pertama dan kedua ditatahkan pada marmer dinding makam Engku Hamidah.

 

Gurindam 12 pasal pertama dan kedua

Berikut syair Gurindam 12

 GURINDAM I

Ini gurindam pasal yang pertama
Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang terpedaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat.

GURINDAM II

Ini gurindam pasal yang kedua
Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua temasya.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.

GURINDAM III

Ini gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi’il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.

GURINDAM IV

Ini gurindam pasal yang keempat:
Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

GURINDAM V

Ini gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

GURINDAM VI

Ini gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh menyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,

GURINDAM VII

Ini Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah tanda hampir duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.

GURINDAM VIII

Ini gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.

GURINDAM IX

Ini gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.

GURINDAM X

Ini gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapak jangan durhaka
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai
supaya dapat naik ke tengah balai.
Dengan istri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil.

GURINDAM XI

Ini gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hujjah.
Hendak dimalui,
jangan memalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.

GURINDAM XII

Ini gurindam pasal yang kedua belas:
Gurindam Dua Belas, pasal yang ke 11 dan ke 12
Raja mufakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,

Selain gurindam 12 icon yang sangat terkenal adalah Masjid Raya Sultan Riau Penyengat dibangun oleh Sultan Mahmud pada 1803, terbuat dari kayu, dibangun olehnya ketika membangun infrastruktur untuk kediaman istrinya yaitu Raja Hamidah putri dari Raja Haji Fisabilillah. 

Seiring bertambahnya jumlah jemaah, pada 1832 Masjid dipugar oleh Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman. Raja Abdurrahman memberikan seruan pada masyarakat tepat pada 1 Syawal, seruan jihad untuk bersama-sama memperbaiki masjid Dengan adanya seruan ini masyarakat berbondong-bondong untuk ikut membangun masjid  ini.Untuk pembangunan pondasinya sendiri hanya memakan waktu selama tiga minggu. 

 (sumber: https://nationalgeographic.grid.id/tag/masjid)  

 Pada saat membangun masjid masyarakat banyak menyumbang bahan makanan salah satunya telur karena pada saat itu telur ayam sangat melimpah dan putih telur digunakan sebagai pengganti semen. Sedangkan kuning telur sebagai cat. Sehingga sebagian besar bangunan masjid berwarna kuning telur.


#100katabercerita #30hariAISEIbercerita #AISEIWritingChallenge #warisanAISEI #pendidikbercerita #Day1AISEIWritingChallenge

Posting Komentar

15 Komentar

  1. Oh ini bu kenapa disebut Gurindam XII ya. Siiip for the challenge nya.. keren abis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih bu Bintang di tinggu challenge nya

      Hapus
  2. Tambah ilmu di Pagi hari
    Terimakasih Bu

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Ternyata orang zaman dulu hebat2 ya tulisannya sarat makna

      Hapus
  4. wah jadi ingat lagi gurindam 12 yg terkenal itu, terima kasih bunda sudah menuliskannnya kembali.

    BalasHapus
  5. Mantapp Mba Rita lgsg berbagi disinii, ditunggu besok lagii

    BalasHapus
  6. Gurindam,dam ,dam oh oh gurindam Banyak maknanya

    BalasHapus
  7. Mantap blognya, banyak edukasi dan nambah pengetahuan....
    Terima kasih.
    http://harry-kusumo.blogspot.com/

    BalasHapus