/> Economy Class In Pelni

Economy Class In Pelni

 

Jika ingin tahu baik / tidaknya seorang teman, 
ajaklah ia berpergian jauh.
Uknown


K

apal Pelni tujuan Tanjung Priok ke Pelabuhan Kijang telah dibuka. Penumpang kelas ekonomi berebut masuk berlarian mencari tempat ternyaman. Kelas ekonomi memang kelas yang paling ramai. Banyak calo tiket bahkan fasilitas kasur ekonomi pun ada calonya yang menawarkan kasur plastik berwarna hitam, sejatinya milik Pelni yang disediakan untuk penumpang.

Tiara bergegas masuk. Ia bersama Tina ingin pulang ke kampung halaman karena liburan semester. Liburan panjang membuat penumpang membludak. Alhamdulillah Tiara dan Tina mendapatkan tempat untuk istirahatnya selama 24 jama di kapal ini. Berada di kelas ekonomi membuatnya harus siap bercampur dengan sesama penumpang baik itu pria, wanita, anak-anak, tua dan muda.

Sesekali Tiara teringat dengan film Titanic bagaimana penumpang kelas ekonomi saling berebutan masuk dengan berdesak-desakan. Begitu juga yang di alaminya saat itu.

Besi panjang dengan lebar 1 ½ meter serta panjang sekitar 7 meter dan tinggi 1 meter yang digunakan sebagai tempat tidur penumpang sekitar 10 orang per deret. Perlu kewaspadaan tinggi karena banyaknya copet yang berkeliaran.

Tiara dan Tina mendapatkan tempat yang cukup nyaman. Walaupun bergabung dengan penumpang lain, setidaknya di samping kiri dan kanannya sesama wanita.

Tiara mabuk laut, seharian jika di kapal ia tidak kemana-mana, kecuali ketika jadwal makan dan salat. Selebihnya ia hanya berbaring di atas kasur apatah lagi jika ombak besar.

 “Tir, ambil makan yuk?” ajak Tina

“Nggak ah, aku pusing,” ucap Tiara sambil mengusap minyak kayu putih di keningnya.

Berbeda dengan Tina, ia tidak mabuk laut, semua makanan bisa dimakannya dengan lahap. Jika bosan ia akan berkeliling kapal mulai dari dek paling bawah hingga paling atas.

“uweeeek”  udah kesekian kali Tiara mengeluarkan isi perutnya.

“Aku salat dulu ya?” sahut Tina.

“Ia, aku bentar lagi nyusul masih pusing,” balas Tiara.

Tina menuju ke Musala yang berada pada lantai paling atas.

Tiara mulai enakan. Ia sedikit memaksakan dirinya untuk bergerak menuju ke Musala.  Jalan menuju Musala melalui beberapa tingkat. Tiara memilih jalan di luar sambil menghirup udara dan angin yang berhembus sangat kencang.

Salat di atas kapal terasa sama seperti salat di daratan jika ombak tenang. Tiara tidak melihat Tina, ia berpikir jika Tina telah selesai dan kembali ke tempat tidurnya. Tiara kembali ke tempat istirahatnya, Tina masih belum terlihat. Sudah 3 jam berlalu Tina juga belum kembali.

“Tir....., Tir aku takut Tir....,” teriak Tina pada Tiara.

“Serem Tir...serem...,” lanjutnya.

“Ada apa Tin?”

“Aku tadi Tin, bertemu sama orang di luar Musala. Dia ngajak ngobrol.”

“Teru...s?” Tiara penasaran

“Terus, dia ngajak nikah,” Tina menerangkan dengan cemas dan terbata-bata.

“Aku, langsung kabur,” sambungnya.

“Masak, orang nggak kenal langsung ajak nikah.”

Belum selesai Tina menjelaskan ada teriakan seorang wanita dari jarak 6 meter.

 “Uangku...uangku....uangku di copet,” teriak seorang wanita yang baru keluar dari kamar mandi.

Orang-orang mulai berkumpul mendekatiknya.

“Makanya Bu, kalau di kapal itu harus hati-hati, memang banyak copet,” teriak seorang pria dari kejauhan sambil mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.

Tiara hanya diam di tempat sambil mendengarkan obrolan ibu di sebelah ternyata wanita yang kecopetan itu TKW yang baru pulang dari Malaysia. Uang yang kehilangan sekitar 20 juta.

Banyak orang yang menenangkan si ibu. Yang pasti uangnya telah hilang. Uang jerih payahnya bekerja di negeri seberang dan ingin pulang ke kampung halaman dengan harapan memberi kebahagian kini terasa pupus.

***

            Malam menjelang, semua orang sudah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Sebagian ibu-ibu di deretan Tiara sedang memperhatikan acara final pemilihan Puteri Indonesia tahun 2002.

“Ayo, Melanie harumkan namo Sumatera Barat,” ucap salah satu ibu dengan semangat menyaksikan dukungannya terhadap perwakilan Puteri Indonesia dari Sumbar itu.

Mendengar kehebohan si ibu yang berbadan tambun membuat penumpang lain menoleh ke arah TV usang yang bertengger di atas rak TV kelas ekonomi.

             “Hore Sumatra Barat manang.” Teriak seorang ibu yang antusias memperhatikan siaran final pemilihan Puteri Indonesia sejak 2 jam lalu.

Mata Tiara sudah tidak fokus beberapa kali ia menahan kantuk. Ia melihat Tina sudah terlelap tidur.

Tiara pun mulai tidur, 15 menit terlelap ia mendengar tangisan Balita. Awalnya ia tidak menghiraukan mungkin orang tua si Balita sedang membuat susu untuk anaknya.

Akan tetapi lama sekali tangisan itu tidak berhenti. Tiara membuka mata memperhatikan sekitarnya. Penumpang telah banyak yang tidur. Terlihat seorang pria sedang duduk merokok sambil bersenandung.

Tiara menoleh ke kiri terlihat seorang ibu muda sedang meninabobokan bayinya sambil di buay dipelukannya.

Tiara kembali tidur, belum terlelap.

“Skak........, habis lah kau.......”


 Jembrana 3 Februari 2021

Rita Wati

Naskah hari ke-3 

 

Posting Komentar

4 Komentar

  1. Waahh..saya belum pernah naik kapal Bun..membaca tulisan Bu Rita jadi membayangkan..

    BalasHapus