/> Gethuk dan Lontong Sayur

Gethuk dan Lontong Sayur

 

“Life presents many choices, the choices we make determine our future.”- Catherine Pulsifer-

            “Bapak sudah ndak kuat...Bapak sudah ndak kuat,” ucap Pak Parto di hadapan anak-anaknya.

            Pak Parto tetangga Tiara, tidak terlalu dekat jarak rumahnya dengan Pak Parto sekitar 20o meter.

            Ketika itu Tiara baru pulang dari sekolahnya, Tiara di suruh oleh ibunya untuk membeli garam. Jika ke warung Tiara akan melewati rumah Pak Parto. Terlihat ada beberapa orang berkumpul di rumahnya. Tiara pun penasaran, ia berjalan menuju ke rumah Pak Parto.

            Yuni anak bungsu Pak Parto merupakan adik kelasnya Tiara.

“Bapaknya kenapa Yun?” tanya Tiara kepada Yuni

“Bapak sakit Kak,” jawab Yuni.

“Aku sudah nggak kuat... sakit...sakit,” Pak Parto terus berteriak.

          Tiara tidaklah terlalu akrab dengan anak-anak Pak Parto karena usia anak Pak Parto tidak ada yang seumuran dengannya. Sehingga mereka bukan teman bermainnya Tiara. Akan tetapi Tiara selalu datang ke rumah Pak Parto hampir setiap hari untuk membeli gethuk.

      Bu Yanti adalah seorang janda dengan 5 anak ketika dinikahi oleh Pak Parto. Bu Yanti menjadi janda karena suaminya meninggal dunia. Walaupun sudah memiliki anak 5, kecantikan Bu Yanti tidak pudar. 

        Tiara masih ingat Bu Yanti berkulit putih, wajahnya jika dilihat mirip dengan artis Suzana. Wajar saja walaupun janda dengan 5 anak masih banyak yang kepincut dengannya. 

     Pak Parto merupakan suami dari Bu Ratih pedagang lontong sayur. Pernikahan Pak Parto dengan Bu Ratih tidak dikarunai anak. Akan tetapi mereka berpisah karena keputusan Pak Parto yang ingin menikahi Bu Yanti.

            Tidak ingin dimadu Bu Ratih mengikhlaskan suaminya untuk menikahi janda 5 orang anak tersebut. Menikah dengan Bu Yanti Pak Parto dikaruniai seorang anak yang bernama Yuni yang merupakan adik kelasnya Tiara di SD. 

       Gethuk Bu Yanti sangat enak begitu juga dengan lontong sayur Bu Ratih. Sehingga Tiara sering membelinya untuk sarapan ketika ia hendak berangkat ke sekolah.

       Setelah menikahi Bu Yanti kehidupan Pak Parto dan Bu Yanti tidak ada yang berubah, Bu Yanti masih berjualan gethuk setiap harinya. Tapi, setidaknya Bu Yanti ada pendamping hidup yang membantunya untuk membesarkan ke-6 anaknya walaupun dari pernikahannnya dengan Pak Parto hanya dikaruniai seorang anak.

      Kebahagiaan terpancar dari keluarga mereka. Anak Bu Yanti semuanya bersekolah duduk di bangku SMP dan SD. Akan tetapi kebahagiaan itu tidak terasa lama. 

    Sudah dua bulan Tiara tidak pernah melihat Bu Yanti berjualan gethuk dan cendol dawet. Rupanya Bu Yanti mencoba keberuntungan bekerja ke Singapura. 

        Tiara tidak tahu pasti dengan urusan keluarga Pak Parto, akan tetapi Tiara salut kepada Pak Parto karena mengizinkan isterinya bekerja ke luar negeri sementara ia yang menjaga dan merawat anak-anaknya. Padahal ketika itu Yuni baru berumur 4 tahun.

        Kelima anak Bu Yanti dari pernikahan sebelumnya tinggal bersama Pak Parto serta anaknya Yuni. Sudah bertahun-tahun Bu Yanti merantau akan tetapi Tiara tidak pernah mendengar ataupun melihat Bu Yanti pulang ke rumahnya.

Sejak Bu Yanti bekerja di Singapura, anak-anaknya Bu Yanti seperti kehilangan sosok ibu. Dua orang putranya terjerumus pergaulan bebas hingga sering keluar masuk penjara karena  tersandung kasus pencurian.

***

Hari ini Tiara ingin sekali membeli lontong sayur Bu Ratih. Sudah cukup lama sejak Tiara kuliah, ia tidak pernah menyicipinya. 

Tiara melewati rumah Pak Parto terlihat sangat sepi, pintu terkunci rapat. Tiara bertemu dengan Yuni, yang terlihat lebih dewasa karena sudah hampir 7 tahun ia tidak bertemu dengan Yuni sejak Tiara kuliah dan ketika itu Yuni masih duduk dibangku SMA.

            “Yun, apa kabar?” sapa Tiara kepada Yuni.

            “Baik..., Kak Tiara ya?”

            “Iya, wah tambah cantik Yuni. Bagaimana kabar Pak Parto?”

            “Bapak, sudah nggak ada Kak, sudah hampir setahun,” jawab Yuni.

            “Innalillahi wainnailaihi rajiun, turut berduka ya.”

            “Makasih Kak, aku mau ke warung dulu ya,” ucap Yuni sambil pamit meninggalkan Tiara.

***

         Lontong sayur buatan Bu Ratih masih terasa sama seperti dahulu, ketika Tiara masih duduk di sekolah dasar, tidak ada yang berubah. Rasanya enak sesuai dengan lidah Tiara.

Tiara tidak tahu pasti apakah ada kabar berita dari Bu Yanti untuk keluarganya atau tidak. Yang pasti sebagai tetangga Tiara tidak pernah melihat kepulangannya hingga sang suami meninggal dunia dan anak-anaknya telah tumbuh dewasa dan berkeluarga bahkan si bungsu Yuni juga telah menikah.

 

Jembrana, 8 Februari 2021

Naskah Lomba Hari ke-8

NPA:22010300468

 

Posting Komentar

4 Komentar