/> Runyam

Runyam

       

"Cara termudah untuk menjadi kreatif: 
Cobalah sesuatu yang berbeda, meski menurutmu
 itu tidak akan berhasil."  Uknown

          Saat itu Tiara sedang melihat ibunya sedang mengupas kelapa. Terlihat sangat mudah sekali. Belum terkupas semua ibu menghentikan sesaat kupasannya, karena ingin melihat masakan di di dapur.

          Tiara melihat ada parang yang tergeletak dengan kelapa yang belum selesai dikupas ia pun melakukan aksinya seperti apa yang ibunya lakukan.

          Tok...tok..., ia memukulkan parang ke arah kelapa, kelapa bergelinding karena tidak ada yang menahan.

          “Tir jangan main ladiang (parang),” ucap Ibu kepada Tiara yang mendengar ketokan dari belakang rumahnya.

          Tiara tetap saja masih ingin melakukannya. Saat itu ia pun memegang kelapa dengan tangan kiri agar kelapa tidak menggelinding dan tangan kanan untuk memegang parang yang akan ia gunakan untuk mengupas kelapa.

          Sebelum melakukan aksinya, awalnya ia sudah berpikir jika tangan kirinya memegang kelapa terus tangan kanan memukul kelapanya jika salah arah maka tangan kirinya bisa terkena benda tajam yang cukup besar itu.

          Tapi pikiran itu ia abaikan karena semangat untuk mencobanya sangat tinggi sekali.  

          “Tok....tok. Tok...tok....aaaaaaaduuuuuuuh,” teriaknya. Benar saja parang yang ia niatkan  pukul ke arah kelapa meleset mengenai jempol kirinya.

          Darah berceceran jempol kiri tiara terluka. Kulit yang menutupi jempol kirinya terkelupas hingga terlihat tulang.

          “Manga kau Tiara...., indak mandanga kece Amak.” (Mengapa kamu Tiara, tidak mendengar cakap ibu).

***

          Hujan turun dengan derasnya. Ibu Tiara mulai menampung air. Saat itu di rumah Tiara belum ada sumur. Maka ketika hujan turun ibu menampung air sebanyak-banyaknya.

          Tiara pun mengikuti Dodi yang bermain hujan. Teras rumah Tiara belum di keramik. Hanya sekedar di semen halus. Dodi bermain plesetan sambil bermain hujan-hujanan.

          Tiara melakukan seperti apa yang saudaranya lakukan. Ia pun bermain plesetan di teras rumahnya. Dodi tidak mengenakan baju sehingga sekali beraksi pelesetannya cukup melesat jauh. Berbeda dengan Tiara karena mengenakan baju pelesetannya tidak jauh hanya jarak 1 meter ia sudah berhenti.

          Pelesetan yang mereka main adalah pada posisi telungkup dengan kaki yang menjadi sebagai tolakan awal saat memulainya. Tiara terus mencoba agar lebih jauh lagi. Ia pun meminta tolong Dodi untuk mendorongnya agar melesat jauh. Tiara sudah sangat siap di dorong Dodi.

        "Satu...,dua...ti....ga." Dodi mendorong Tiara dengan kekuatan penuh.

        Tiara girang ia meluncur sangat kencang dan lebih jauh dari aksinya ketika tidak didorong. Akan tetapi karena terlalu kencang dorongan yang Dodi lakukan ia pun tidak bisa mengerem dan berakhir dengan kepala terbentur tembok.

 Jembrana 25 Februari 2021

Naskah Lomba Hari Ke-25

NPA: 22010300468

Posting Komentar

0 Komentar